Kamis, 09 Maret 2017
Kenangan soal walkman
Kemarin lalu lihat iklan trailernya film ratna galih di tv. Yang paling aku inget waktu Ratna tanya ke Galih "itu walkman?" Atau "itu walkman ya?" --lupa inget gitu...
Jadilah teringat dengan si walkman penuh kenangan punyaku yang masih tersimpan manis diantara tumpukan cd. Duhh itu walkman jiwa banget dulu.
Waktu itu masih kelas satu smp. Walkman lagi ngehits banget. Radio lagi jadi tongkrongan banget. Westlife, bsb, britney, christina aguilera lagi digilai banget. Aku sendiri jatuh cinta sama westlife. Siapa aja boleh pinjem kaset yg aku punya kecuali westlife lol... segitu posesifnya. And please take a note, kalau nikah nanti aku mau lagu beautiful in white jadi pengiringnya... ya selain shalawat-shalawat yg penuh berkah pastinya.
Back to walkman,...
Walkmanku ini didapet dg cara yg romantis (one of da reasons why it's so memorable). Temen-temen dulu udah pada punya walkman. Di kelas, mereka bisa cengar-cengir denger radio atau selfconcert sambil denger lagu. Aku mau juga dongg... mintalah ke bapak begitu bapak pulang kerja.
A: Pakk... beliin dong walkmann... (sambil takut-takut)
B: nanti yah kalau udah ada uang.
Meaning that, nantinya bakal lamaaa dan mungkin berujung terlupakan.
Besoknyaa... waktu bapak pulang kerja, aku disuruh buka tas bapak buat ambil oleh-oleh. Oleh-oleh yg ditaruh dalam tas kan biasanya cakwe (gimana sih nulis cakwe?) hehe... atau sebungkus gede permen (my fav one dan bapak sering bawa ini lol). Pas aku udek-udek isi tas, eh kok ada kardus kecil.. omg! Walkman dongg... kebayang gimana aku jingkrak-jingkrak disurprisin ini walkman. Duhhh romantis juga nih bapak eikehh...
Days after... walkman itu gk pernah lepas, kemanapun aku bawa. Love it to the max. Paling sering denger radio pakai ini, kalau denger laku pakai kaset lebih suka lewat radio besar biar bisa max volume. Terus karokean sesembreng-sembrengnya. Ohiya jaman walkman ini radio lesmana lagi populer banget di Bogor. Sampe inget jinglenya, lesmaaana double nine point one fmmmmm.... (ini namanya jingle bukan? Tau ah..). Sering juga nelfon interaktif buat kirim-kirim salam sama request lagu. Aku nggak sering request lagu westlife sih, cuma selalu. Dan bahkan pernah juga kenalan sama penyiarnya, sampe smsan segala lol... itu jamannya hp siemen doraemon. Ohiya salah satu penyiar lemana yg viral di jamannya sekarang udah jadi tetangga aku loh. Namanya mas Yuda... kali aja ada yg inget hahhaaa....
Udah ah mau sarapan, terus ngajarrr....
Salam cintaaaa....
Rabu, 08 Maret 2017
Cerpen kawanku: keluarga baru Keke
Haiii.... ini cerpen pertamaku di majalah Kawanku di tahun kemarin. Akhirnyaaa ada juga cerpen yang nyangkut. Semoga bisa jadi awal yang baik. Kedepannya lebih lebih lebih baik lagi. Aminn..
Judul asli cerpen ini Keluarga baru Keke, diganti jadi "Seandainya ada ibu" sama editornya.
Ini dia cerpennya, selamat membaca.. ohiya kalau ada dari kamu yang merasa senasib sama Keke, hhnmm jangan baper yaa... segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Kan kita punya Allah 😆
Keluarga baru Keke
Hari ini ayah terlambat lagi datang ke kantor. Keke menengok pada jam di tangan kirinya. Sudah pukul sembilan pagi. Sudah hampir satu jam ayah bicara serius dengan Bu Asri. Maka itu berarti peristiwa perkelahian yang dilakukannya kali ini dengan seorang teman sekolah sudah terlampau gawat. Keke bersandar pada tembok ruang BP tersebut sambil bergumam dalam hati, “Seandainya saja ada ibu.”
Ia melirik sebal pada seseorang yang berdiri tidak jauh darinya. Cewek itu masih terus mengusap air mata yang belum juga berhenti. Sesaat Keke tertawa melihat rambut kucai masainya.
“Makanya jangan buat masalah sama Keke.” gumamnya lagi.
Cewek itu bernama Clara. Beberapa kali ia juga melihat jam di tangan kirinya. Orang tuanya belum juga datang.
"Ayahh..." Keke lelah ditatap penuh prihatin oleh ayahnya sendiri. Ia mengalihkan pandangan ke arah lapangan sekolah. Kosong. Sama seperti hatinya.
"Kita ngobrol lagi nanti yah, ayah ke kantor dulu." Ayah bergegas menuju area parkir di dekat gerbang sekolah. Tapi baru beberapa langkah, ayah kembali menghampiri Keke.
"Jangan berantem lagi yah." Ayah mengecup kening Keke lalu bergegas kembali menuju parkiran. Bersusah payah mengeluarkan sebuah motor matic dari padatnya motor yang berjajar. Keke menyaksikan ayahnya keluar gerbang sekolah sebelum ia sendiri masuk kembali ke kelasnya.
Keke mengucap salam sambil mengetuk pintu kelas. Bu Sari, guru matematikanya, sedang menerangkan Trigonometri Lanjut di papan tulis.
"Masuk!" Ujar Bu Sari ketus. "Ibu heran kamu sarapan apa tadi, pagi-pagi sudah bergulat seperti dua ekor ayam berebut cacing."
Sontak seluruh anak di kelas tertawa mendengar perumpamaan yang dibuat Bu Sari. Keke hanya tersenyum kecut sambil berjalan menuju tempat duduknya. Betul juga apa kata Bu Sari. Mungkin karna sarapan yang kurang kasih sayang, ia jadi emosional. Atau mungkin memang seperti ini kondisi psikis anak broken home. Sensitif. Bisa jadi karna kurang perhatian. Huhh... seandainya saja ada ibu.
"Kamu jagoanku, Ke." Abel terkekeh, teman sebangku Keke yang selalu antusias melihat kekonyolannya. "Ngomong-ngomong kenapa sih tadi kamu berantem sama dia?" Tanya Abel penasaran. Matanya menilik pada kaca jendela. Keke paham temannya ini memberi isyarat yang mengarah pada cewek di depan ruang BP.
"Aku bingung aja, Bel. Si clara itu kenapa sinis banget. Aku nggak salah apa-apa tadi tiba-tiba dia sebut aku manja lah..kecentilan lahh.." Gerutu Keke setengah berbisik-bisik karna Bu Sari beberapa kali menoleh ke arah mereka.
Abel setengah mati menahan tawa dengan membekap mulutnya sendiri.
"Kamu nggak tau yah. Ardian sama Clara kan putus gara-gara kamu."
Keke mengernyitkan dahi lalu mengendikkan bahunya.
"Iya, Ardian nembak kamu setelah putus dengan Clara." Sambung Abel.
"Kamu! Kalau mau mengobrol diluar!" Telunjuk Bu Sari mengarah pada hidung Abel.
"Nggak, Bu. Maaf." Abel menundukkan kepalanya ketakutan.
"Tapi kan aku tolak dia." Bisik Keke tanpa menoleh ke arah Abel.
"Hhmmm... ya pasti Clara masih kesal sama kamu, Ke." Keke menghela nafas. "Mmmm... besok kamu harus kuat yah, Ke. Demi ayah kamu."
"Besok?" Keke memutar bola matanya. Ia terlalu lelah mempersiapkan hatinya untuk acara besok. Bertemu dengan keluarga ibunya yang baru.
Pandangannya menerawang keluar jendela. Clara masih berdiri disana. Gelisah menunggu kedatangan orang tuanya.
***
Hanya ada mereka berdua di meja makan itu. Ayah dan Keke. Sudah dua tahun lebih ibu tidak lagi makan malam bersama mereka. Sejak ayah dan ibu memutuskan untuk berpisah. Dan kini ibu pasti sedang makan malam bersama keluarga barunya.
Keke menikmati ayam bakar yang dibuatnya sendiri sore tadi.
"Sambalnya kurang pedas ya, yah?" Tanya Keke memastikan karna sambal buatannya kali itu terasa kurang pedas dilidahnya sendiri
"Cukup kok, sayang. Enak sekali." Ahh ayah... selalu bisa membuat Keke senang.
"Jadi ada apa tadi di sekolah?" Tanya ayahnya sesantai mungkin agar Keke merasa tetap nyaman.
"Bukan apa-apa, ayah. Cuma salah paham." Jawab Keke dengan gaya cueknya.
"Mmm okay kalau begitu. Tapi jangan diulang lagi yah. Kamu sudah dapa surat peringatan pertama. Diam saat dijahili bukan berarti kalah." Ayah tahu siapa putri semata wayangnya. Keke tidak mungkin berkelahi kalau tidak dijahili duluan.
"Oh iya. Keke siap untuk besok?"
Keke memandangi ayahnya. Ahh..pertanyaan itu lagi. Ia menyungging senyum sambil mengangguk. Ia harus siap dan kuat agar ayah tidak mengkhawatirkannya.
***
Bunyi bel terdengar tiga kali. Keke sedang menata kue dan masakan yang telah dimasaknya tadi dengan dibantu ayah. Dadanya berdegup sangat kencang. Ia takut kalau-kalau emosinya tak tertahan dan meledak ketika bertemu ibunya untuk pertama kali setelah dua tahun berlalu. Sekeras hati ia mengendalikan rasa kecewanya.
Ayah bergegas membuka pintu di ruang tamu. Mereka datang. Keke melihat ibu bersama seorang lelaki yang berarti adalah ayah tirinya. Namanya om Heri. Dan seorang cewek seusianya.
"Clara?" Suara Keke mengejutkan ayah, ibu dan ayah tirinya yang sedang bersalaman. Sedangkan Clara tampak santai melihat keterkejutan Keke.
Ibu berlari memeluk Keke dan tanpa henti mengecupi kening dan pipinya. Keke hanya mampu diam mematung tak habis pikir dengan kebetulan yang sedang dihadapinya.
Ia dikenalkan pada ayah tirinya dan Clara. Ayah tirinya tak banyak bicara. Keke merasa canggung namun demi ayahnya, ia berusaha bersikap manis.
"Kalian satu sekolah kan. Apa kalian berteman baik di sekolah?" Tanya ibu saat mengenalkan Clara pada Keke.
"Sangat baik." Jawab Clara singkat dengan seringai senyum lebar yang tak dapat dimengerti maknanya oleh Keke.
Keke dan ayahnya saling berpandangan. Keke yakin ayah pasti heran karna Clara adalah cewek yang berkelahi dengan Keke kemarin.
"Keke, kamu semakin pintar masak yah. Ibu bangga." Puji ibu saat menyicipi macaroni schotel kesukaannya. Keke tersenyum singkat sambil sesekali melihat Clara.
"Kita ngobrol disini." Ajak Keke usai makan malam pada Clara. Ia meletakkan dua gelas soda di atas meja taman belakang.
"Kamu sudah tau kalau aku ini saudara tirimu?" Tanya Keke penuh selidik.
Clara membetulkan posisi duduknya. Kursi rotan itu dirasanya kurang nyaman. Entah karna kaki kursi yang pendek sebelah atau permukaan tanah yang tidak rata. Clara mengangguk tanpa ekspresi.
"Apa rasanya jadi anak kesayangan ibumu?" Tanya Clara sinis.
"Apa?" Keke terbelalak.
"Semua tentangmu dipuji. Masakan, kesopanan, keceriaan, senyuman, kerajinan, keuletan, entah apa lagi."
Keke masih terbengong-bengong mendengar ocehan Clara.
"Belum cukup dengan ibumu. Sekarang Ardian juga sering memuji kamu. Asyik lah, seru lah.. " katanya lagi dengan nafas memburu karna kesal.
"Oh jadi karna itu.." Keke tertawa terbahak- bahak sampai-sampai ibu yang sedang ada di dapur mengintip mereka karna keheranan. Kini gantian Clara yang terbengong-bengong.
Keke mengeluarkan ponselnya dari celana jeans yang ia kenakan. Ia memotret dirinya bersama Clara. Lalu menyodorkan hasil foto itu pada Clara.
"Lihat. Agak gelap sih tapi jelas sekali siapa yang lebih menarik. Hidung kamu lebih mancung. Bibir kamu sempurna. Kulit kamu mulus tanpa jerawat. Dan ingat, Bahasa Inggrismu yang terbaik di sekolah. Jadi buat apa kamu iri sama aku yang bahkan lebih pendek dari kamu."
Wajah Clara memerah. Ia tersipu-sipu mendengar pujian dari Keke.
"Dan tentang ibu. Wajar kalau ibu selalu menyebutku. Mungkin ibu sebenarnya sedang rindu. Aku kan anak kandungnya. Bukan berarti ibu nggak sayang kamu. Ibu juga sering memujimu kalau sedang ngobrol denganku di telepon. Dan ternyata yang sering dipuji itu adalah kamu. Kamu dipanggil anne di rumah?" Clara mengangguk.
"Benarkah?" Tanya Clara memastikan. Diikuti oleh anggukan Keke. Walaupun sebenarnya Keke juga sangat cemburu setiap kali ibu membicarakan anak tirinya yang ternyata adalah Anneria Clara, teman sekelasnya.
Ahh.. tentu saja. Keke baru teringat tentang nama lengkap itu.
"Tentang apa yang dikatakan Ardian, mmm.. kalau dia tulus seharusnya dia bisa menerimamu apa adanya. Lagipula kamu juga bisa seru dan asyik kok. Fokus saja sama kelebihanmu.. jadikan saja kelebihan orang lain sebagai inspirasi supaya kita jadi lebih baik. Positive thinking."
Clara tersenyum mengiyakan apa yang dikatakan oleh Keke. Dan semoga senyum itu dapat menggantikan kebiasan cemberutnya selama ini.
Berbagi kasih sayang seorang ibu bukan hal mudah. Tapi buat Clara yang sedari kecil tumbuh tanpa seorang ibu dan ayah yang terlampau sibuk, tentu itu sangat berarti. Toh Keke masih punya ayah yang menyayanginya dan selalu ada untuknya.
"Harus banyak bersyukur, Ke." Gumam Keke dalam hati sambil melihat raut bahagia di wajah Clara.
Langganan:
Komentar (Atom)

