Ini bukan pertama kalinya aku baca buku ini. Ingat sekali saat itu sekitar 8 tahun yang lalu di kamar asrama. Giliranku meminjam buku ini tiba. Iya benar, ini buku jadi giliran untuk dipinjam kami-kami yang suka baca tapi nggak modal hahahaa... aku biasa pinjam novel ke teman atau sesekali pinjam di perpustakaan kampus. Well kampusku itu lingkungannya internasional. Hampir semua buku di sana berbahasa inggris termasuk novel. Karna bawaan ndesoku masih kental yaa gimana yah jadi kurang menikmati novel berbahasa asing seperti itu. Hhmm...
Back to buku ayat-ayat cinta 1. Setelah sebelumnya aku nggak berhenti-henti ketawa saat memikmati buku kambing jantannya Raditya dika -buku pinjaman juga lohhh- ehhh air mata yang tadinya keluar karna tertawa yang terlampau itu malah berganti jadi air mata syahdu huhuhu... aku jatuh cinta pada..padaaa...pada....
Oh iya sebelum lanjut, aku mau kasih tau kalau kali ini buki ayat-ayat cinta 1 yang aku baca adalah hasil beli. Serius!
Tanpa cemburu, cinta tiada. Itu kata Aisha ke Fahri waktu..hmm.. apa yah lupa.
Jadi ingat kalau beberapa waktu lalu aku juga putus karna cemburu. Eike kan cewek, wajar dong kalau cemburunya diekspresikan.
Nahh pasti sebagian besar dari kamu, anda, ibu, bapak, mbak, mas dll sudah pernah terhanyut dalam kisah cinta Fahri, Aisha dan Maria di filmnya. Saya juga. Sebelum nonton film itu, saya sudah baca bukunya. Tapi inilah saya, kalau baru sekali baca itu kurang mudeng. Mudeng waktu bacanya aja, setelah itu lupa. Dan waktu nonton filmnya, jujur aja saya lebih fokus pada wajah mulus aisha dan maria. Dan wajah ganteng fahri. Sekali lagi, begitulah saya. Alhasil, saya baru betul-betul menikmati indahnya buku ini saat kali kedua membaca. Hahhaahhh..
Begini resensi singkatnya,
Adalah Fahri, mahasiswa Al-Azhar yang berasal dari Indonesia. Ganteng, sholeh, baik hati, jujur, pintar, bijak apalagi yah... pokonya Fahri ini nyaris sempurna. Cuma kurang kaya raya aja hahhaa.... tapi jangan salah, kalau tahu keuletan, kegigihan, tanggung jawab dan budi pekerti mas Fahri ini (ciyee..) pasti punya keyakinan kalau akh Fakhri yang kharismatik akan InyaAllah sukses dunia akhirat. Apalagi mas Fahri ini juga romantis elegan dan gentle. Pantas aja Aisha, Nurul, Maria dan Noura menginginkanyahh...nyess...
Jadi mas Fakhri ini sedang menjalani program pascasarjananya. Dan punya planning untuk sudah memiliki istri saat sedang berjuang menyelesaikan thesis. Begitu. Tapi mas Fahri tidak lantas hunting istri. Ia bertawakal pada Allah. Tanpa disangka dijodohkan dengan Aisha. Fahri dan Aisha sudah saling kenal, awal perkenalan mereka di metro (kereta) dan berlanjut menjadi pertemanan. Ternyata Aisha ini yang mengatur agar bisa dijodohkan dengan Fahri. Ahhhaaa goodjob! Cinta memang harus diperjuangkan.
Singkat cerita, setelah menikahnya Fahri dan Aisha, dua gadis lain yaitu nurul dan maria patah hati. Maria sampai jatuh sakit dan koma. Nurul cuma bisa pasrah. Tapi sempat kirim surat cinta ke fahri untuk minta dijadikan istri kedua. Huaaa... jelas fahri menolak dengan bijak tentunya. Padahal ternyata dulunya fahri sempat suka sama nurul, tapi keduanya terlalu malu untuk mengungkapkan. Hehhhee...
Nah Fahri ini sempat masuk perjara karna dituduh memperkosa noura. Duh siksaan di perjara itu bikin ngilu deh bacanya. Padahal waktu itu fahri cuma niat menolong. Ternyata noura hamil dan fahri dijadikan kambing hitam. Siapa yang menghamili? Baca aja sendiri.
Maria oh maria, perempuan nonmuslim ini sangat mencintai fahri. Cinta memang menyakitkan yah. Dia sampai koma waktu dengar fahri menikah. Tapi akhirnya fahri dan maria menikah. Tapi harus terpisah lagi. Ini saat-saat paling mengharukan dalam kisah ini.
Selama membaca saya banyak senyum sekaligus berlinangan air mata. Jangan salah, saya menangis bukan karna sedih tapi justru terharu ketika membaca romantisme fahri, aisha dan maria. Kok kisahnya syahdu banget yah. Nggak ada unsur nafsusisme (hahhhaaaha apa deh), dan kisah sedihnya dibalut nuansa religius hingga tampak hikmah dibalik setiap cobaan yang didapat dan menggiring kita untuk tetap berpikir positif, hal ini membuat jiwa saya nyess sejuk. Seindah itukah agama yang saya anut? Alhamdulillah.
Btw, ending ayat-ayat cints versi film dan buku itu kayaknya berbeda. Seingat saya Mari masih sempat menjalani rumah tangga dengan Fahri (kalau nggak salah, kalau salah tolong ingatkan) tapi versi buku nggak demikian. Buat saya pribadi, ending versi buku ini lebih syahdu.