Minggu, 31 Januari 2016

My everytime guardian angel

Dear Ayah

Ayah masih ingatkah hari itu saat bangun tidur aku merengek ingin ayah gendong? Aku pikir saat-saat itulah kulihat dirimu sebagai malaikat. Ternyata itu hanya hal kecil yang bisa dilakukan siapapun yang mampu. Ayah adalah everytime guardian angel buatku. Dan sekali waktu aku pernah begitu menyadarinya saat...

Hari itu, Ayah. Laki-laki itu datang untuk pertama kalinya. Ia berlaku tidak sopan padaku, katamu. Ketidaksopanan yang tidak aku pahami. Kami berlaku seperti sepasang kekasih pada umumnya. Dan ayah keberatan. Dengan tegas ayah mengatakan: karna ini tentang perasaan, kami tidak harus putus tapi hanya boleh bertemu saat dia sudah siap melamar. Aku menangis semalaman. Buatku terasa tidak adil. Tapi percayalah, dibalik tangisku, aku percaya padamu. Karnanya aku turuti perintahmu.

Waktu berlalu. Dan ayah tahukah dia perlakukan aku dengan tidak baik. Kata-katanya kasar dan merendahkan. Ayah benar, dia tidak setulus yang aku pikir.

Padamu aku kembali, ayah..
Apa jadinya jika aku tidak mendengarkanmu waktu itu. Mungkin penyesalan akan jadi terlalu dalam. Maka jangan berhenti menegaskan apa yang ayah pikir baik buatku. Meski aku menangis, meski aku merajuk. Karna aku yakin bahagiaku adalah bahagiamu.

Love,
Mita

Sabtu, 30 Januari 2016

Ayat ayat cinta 1

Ini bukan pertama kalinya aku baca buku ini. Ingat sekali saat itu sekitar 8 tahun yang lalu di kamar asrama. Giliranku meminjam buku ini tiba. Iya benar, ini buku jadi giliran untuk dipinjam kami-kami yang suka baca tapi nggak modal hahahaa... aku biasa pinjam novel ke teman atau sesekali pinjam di perpustakaan kampus. Well kampusku itu lingkungannya internasional. Hampir semua buku di sana berbahasa inggris termasuk novel. Karna bawaan ndesoku masih kental yaa gimana yah jadi kurang menikmati novel berbahasa asing seperti itu. Hhmm...

Back to buku ayat-ayat cinta 1. Setelah sebelumnya aku nggak berhenti-henti ketawa saat memikmati buku kambing jantannya Raditya dika -buku pinjaman juga lohhh- ehhh air mata yang tadinya keluar karna tertawa yang terlampau itu malah berganti jadi air mata syahdu huhuhu... aku jatuh cinta pada..padaaa...pada....

Oh iya sebelum lanjut, aku mau kasih tau kalau kali ini buki ayat-ayat cinta 1 yang aku baca adalah hasil beli. Serius!

Tanpa cemburu, cinta tiada. Itu kata Aisha ke Fahri waktu..hmm.. apa yah lupa.

Jadi ingat kalau beberapa waktu lalu aku juga putus karna cemburu. Eike kan cewek, wajar dong kalau cemburunya diekspresikan.

Nahh pasti sebagian besar dari kamu, anda, ibu, bapak, mbak, mas dll sudah pernah terhanyut dalam kisah cinta Fahri, Aisha dan Maria di filmnya. Saya juga. Sebelum nonton film itu, saya sudah baca bukunya. Tapi inilah saya, kalau baru sekali baca itu kurang mudeng. Mudeng waktu bacanya aja, setelah itu lupa. Dan waktu nonton filmnya, jujur aja saya lebih fokus pada wajah mulus aisha dan maria. Dan wajah ganteng fahri. Sekali lagi, begitulah saya. Alhasil, saya baru betul-betul menikmati indahnya buku ini saat kali kedua membaca. Hahhaahhh..

Begini resensi singkatnya,

Adalah Fahri, mahasiswa Al-Azhar yang berasal dari Indonesia. Ganteng, sholeh, baik hati, jujur, pintar, bijak apalagi yah... pokonya Fahri ini nyaris sempurna. Cuma kurang kaya raya aja hahhaa.... tapi jangan salah, kalau tahu keuletan, kegigihan, tanggung jawab dan budi pekerti mas Fahri ini (ciyee..) pasti punya keyakinan kalau akh Fakhri yang kharismatik akan InyaAllah sukses dunia akhirat. Apalagi mas Fahri ini juga romantis elegan dan gentle. Pantas aja Aisha, Nurul, Maria dan Noura menginginkanyahh...nyess...

Jadi mas Fakhri ini sedang menjalani program pascasarjananya. Dan punya planning untuk sudah memiliki istri saat sedang berjuang menyelesaikan thesis. Begitu. Tapi mas Fahri tidak lantas hunting istri. Ia bertawakal pada Allah. Tanpa disangka dijodohkan dengan Aisha. Fahri dan Aisha sudah saling kenal, awal perkenalan mereka di metro (kereta) dan berlanjut menjadi pertemanan. Ternyata Aisha ini yang mengatur agar bisa dijodohkan dengan Fahri. Ahhhaaa goodjob! Cinta memang harus diperjuangkan.

Singkat cerita, setelah menikahnya Fahri dan Aisha, dua gadis lain yaitu nurul dan maria patah hati. Maria sampai jatuh sakit dan koma. Nurul cuma bisa pasrah. Tapi sempat kirim surat cinta ke fahri untuk minta dijadikan istri kedua. Huaaa... jelas fahri menolak dengan bijak tentunya. Padahal ternyata dulunya fahri sempat suka sama nurul, tapi keduanya terlalu malu untuk mengungkapkan. Hehhhee...

Nah Fahri ini sempat masuk perjara karna dituduh memperkosa noura. Duh siksaan di perjara itu bikin  ngilu deh bacanya. Padahal waktu itu fahri cuma niat menolong. Ternyata noura hamil dan fahri dijadikan kambing hitam. Siapa yang menghamili? Baca aja sendiri.

Maria oh maria, perempuan nonmuslim ini sangat mencintai fahri. Cinta memang menyakitkan yah. Dia sampai koma waktu dengar fahri menikah. Tapi akhirnya fahri dan maria menikah. Tapi harus terpisah lagi. Ini saat-saat paling mengharukan dalam kisah ini.

Selama membaca saya banyak senyum sekaligus berlinangan air mata. Jangan salah, saya menangis bukan karna sedih tapi justru terharu ketika membaca romantisme fahri, aisha dan maria. Kok kisahnya syahdu banget yah. Nggak ada unsur nafsusisme (hahhhaaaha apa deh), dan kisah sedihnya dibalut nuansa religius hingga tampak hikmah dibalik setiap cobaan yang didapat dan menggiring kita untuk tetap berpikir positif, hal ini membuat jiwa saya nyess sejuk. Seindah itukah agama yang saya anut? Alhamdulillah.

Btw, ending ayat-ayat cints versi film dan buku itu kayaknya berbeda. Seingat saya Mari masih sempat menjalani rumah tangga dengan Fahri (kalau nggak salah, kalau salah tolong ingatkan) tapi versi buku nggak demikian. Buat saya pribadi, ending versi buku ini lebih syahdu.

Jumat, 29 Januari 2016

Si janda

"Apa kabar selingkuhanmu?" Kartika mengibas rambut panjangnya ke belakang pundak. Leher jenjang itu membuat lelaki dihadapannya menelan ludah.

"Aku janji tidak akan main gila lagi."

Kartika tertawa lebar. "Baru belajar bohong sudah berlagak ahli rupanya."

Ia menunjuk tanda merah di leher lelaki itu dengan pena. Lalu melemparnya ke atas surat cerai mereka.

Lelaki itu mati kutu tertangkap basah -lagi. Dengan berat hati ia membubuhi tanda tangannya disana.

Kartika segera bangkit. Menarik surat itu dengan cepat.

"Aku akan berikan semua gajiku padamu. Masa depanmu akan kujamin." Lelaki itu memohon.

Kartika tersenyum kecut. Ia membenahi blazer ungunya.

"Tidak ada yang kutakuti dari masa depanku selain hidup dengan pecundang sepertimu."

Kartika beranjak. Aku menyambut sahabatku di pintu cafe.

"Jadi sampai kapan status janda ini kira-kira bertahan?"

Kartika menertawaiku. Ia menepuk dada kirinya pertanda luka itu masih basah.

"Mungkin sampai ungu tak lagi disebut si janda."

Tulisan ini diikutsertakan dalam #PestaFiksi03 oleh RedCarra

Kamis, 28 Januari 2016

Cinta itu adalah

Setiap kali melihat pohon di siang hari, aku teringat cinta. Cinta ada untuk tumbuh, disadari ataupun tidak. Padanya, aku melihat cinta yang tulus. Cinta bukan cinta jika tidak tulus, bukan?

Cinta sejatinya kuat mengakar. Seperti akar pohon, tak terlihat namun memberi manfaat, tak diungkap namun tetap menetap, tak perlu dipuja namun setia untuk ada.
Cinta sejatinya ikhlas melepas. Seperti dedaun yang jatuh meninggalkan ranting tanpa membenci angin. Karna perpisahan itu pasti. Hanya soal waktu.

Cinta selalu memaafkan. Seperti matahari. Seringkali dikeluhkan akan teriknya namun tetap terbit lagi dan lagi. Karna ia tahu, manusia akan kesulitan tanpanya.

Cinta sejatinya murni. Seperti cinta seorang ibu. Tiada mengeluh atas sakit dan lelah. Tetap saja mencinta. Tak mengenal waktu. Tak terhingga. "Cinta adalah perbuatan, Kata-kata dan tulisan indah adalah omong kosong" -Tere Liye-

Lihat saja pepohonan, sunyi namun penuh cinta. Lihat saja ibu, diam-diam, dibalik omelannya yang sarat pelajaran, ada cinta yang membuncah. Tanya saja kalau nggak percaya :))