Jumat, 08 April 2016

Corat-coret di toilet by Eka Kurniawan

Buku ini berisi kumpulan cerpen dari Eka Kurniawan yang sebagian besar sudah pernah dipublikasikan di media cetak. Jadi nggak diragukan lagi yah kualitas cerpen-cerpen ini secara untuk menembus media cetak perlu seleksi ketat. Fiuhh...

Hampir kesemua cerpen menyinggung tentang polemik yang terjadi pada masa orde baru. Keren yahh... Judul buku ini sendiri, corat-coret di toilet diambil dari salah satu judul cerpen di dalamnya. Dan buat saya adalah pilihan tepat dengan memilih judul ini karna setelah saya baca keseluruhan cerpen, cerpen ini jadi favorit saya.

Corat-coret di toilet adalah cerpen sederhana mengenai kebiasaan pengguna toilet yang gatal ingin curcol di tembok toilet. Kita banget nggak sih? Lo aja keleuss... hal sederhana ini pasti sering luput dari perhatian kita kan... kalau saya sih lebih fokus pada apakah hajat saya sudah rampung benar kalau di toilet hehhehh

Nah terungkaplah lewat cerpen ini bahwa corat-coret yang biasa kita temui itu nggak sesepele itu. Tulisan dari banyak tangan itu sesungguhnya menyimpan aspirasi, unek-unek, pelepas stress, (mungkin) rahasia atau ide briliant. Seninya, tulisan-tulisan itu penuh karakter yang berbeda tergantung siapa penulisnya. Lucu yah.. coba deh sesekali perhatikan. Detail-detail seperti itulah yang tersampaikan dengan apik oleh bung Eka.

Ada satu cerpen lainnya yang jadi favorit saya juga yaitu dongeng sebelum bercinta. Buat sebagian perempuan ada hal yang ditakuti ketika akan atau baru menikah. Jawabannya bisa kamu temui di cerpen ini LoL.

Minggu, 20 Maret 2016

Review revolusi by rezanufa

Kamu tahu kenapa buku revolusi ini kental dengan isu politik? Saya aja nggak tahu. Tapi saya udh duga karna pernah beberapa kali stalking akunnya kak rezanufa sebelum memutuskan beli bukunya. Dan emang, tweetsnya kritis gitu apalagi yang berkaitan dengan politik. Jadi saya pikir seru kali yah kisah cinta dibalut kisah kisruh politik. Yuk mari simak...

Ini cerita tentang cinta segitiga antara dira (mahasiswi awam politik), fajar (ketua bem) dan irham (polantas). Sesuai dugaan, sejak halaman pertama bebauan politik sudah tercium saat mengetahui ayah dira yang ex TNI selalu update berita di tv. Kerusuhan, demonstrasi, ketidakstabilah harga dan sebagainya sudah di bahas.

Di bab-bab awal, kisah kisruh politik ini belum mulai menegangkan. Cerita masih di dominasi dengan kisah cinta segitiga mahasiswa/i dan polantas itu. Nahhh... disini nih saya gregetan banget sama dira. Gimana yah buat saya perasaan itu ringkih, sensitif dan dalam. Jadi dira plisss dong kalau udh suka sama yang satu, jangan kasih harapan ke yang satu lagi. Kasian kan jadi baper ngarep gitu. Uuhh...

Baiklah bab-bab awal ini nggak akan saya bahas jauh karna penuh dengan derraammahh pedekate mereka bertiga. Saya mau bahas langsung ke bab yang paling seru, buat saya yaa...

Pernah nggak kamu membayangkan ada di tengah-tengah hiruk pikuk demonstrasi besar yang suka ada di tv-tv itu loh. Mungkin udh ada film sejenis dibuat dan kamu tonton. Tapi buat saya, dengan membaca lebih membuat imajinasi liar sehingga saya benar benar merasa ada di tempat kejadian. Tegang dan menyeramkan. Lemparan batu dari semua arah, ledakan, api, keributan goshhh... mau pingsan bacanya. Saya aja sampai ambil jeda sebentar buat tarik nafas. Serius.

Peristiwa ini bermula dari demonstrasi besar yang menghendaki presiden turun dari jabatannya. Adalah fajar, ketua bem ini sering memimpin demonstrasi menyuarakan asprirasi rakyat. Tidak terkecuali demonstrasi kali ini. Di sisi lain, irham sang polantas ikut turun menertibkan demonstrasi tersebut. Dua orang ini betul-betul dalam bahaya, tapi yang paling ketakutan adalah dira. Iyalah namanya juga cewek, jelas khawatir kalau orang-orang yang disayanginya sedang mempertatuhkan nyawa. Turunlah dia ke tengah tengah kerusuhan mencari dua laki-laki tersebut, terlebih irham. Sedikit bocoran, akan ada satu tokoh yg gugur.

Jadi dengan siapa dira akan bersatu nanti? Atau malah tidak dengan keduanya? Bagaimana dengan akhir kerusuhan tersebut? *angkatbahu

Jumat, 18 Maret 2016

Kelepus bayangan

Aku tahu tulisan ini tak indah...
Aku paham puisi ini tak berarah...
Cukup dimahfumi setiap penggalnya bertuan...
Bertuan pada pelupuk-pelupuk berawan...

Seperti ini ia terangkaikan,...

Kelepus bayangan

Seumpama titah telah diembus
Tentangku adalah pasti
Bayangku lebih dulu terpatri
Menungguku melangkah di jalan itu
Mesti.
Segera.

Tetapi sebagaimana kelepus asap
Lambat laun kian mengurai
Lepas berpendar tak mengenal sisi
Pasti, hanya tentang waktu
Bayangku memberontak
Pun langkahku...

Semua tahu, hanya Tuhan punya kendali
Selebihnya, tak seorangpun mampu mengurung jiwa

#sajak #puisi #poetry #poem #indonesian #art #handlettering #marker #imagination #freedom #soul

Selasa, 15 Maret 2016

Review Cooking with you by Yona Dianika

Cooking with you.
By Yoana Dianika

Jujur alasan kenapa saya beli buku ini adalah ada kata cookingnya. Hehhheee... itu membuktikan kalau naluri kewanitaan saya kental. Bener, gk bohong. Walaupun baru bisa masak telur balado aja fiuuhhh...

Nahh jelas kan ekspektasi saya terhadap buku ini, saya harap atmosfer masak memasak di buku ini penuh dari awal hingga akhir. Hhmmm... tapi sayang, di bab-bab awal kurang menyinggung tema cooking itu sendiri dan justru lebih banyak membahas tentang surfing. Which is not really me. Buat yang suka surfing boleh dibaca nih karna disini banyak disebut istilah-istilah dari tekhnik olahraga air tersebut, beserta pengertiannya tentu sajaa.

Oh iya buku ini mengambil setting di pantai nembrala. Apa cuma saya yang baru dengar? Saya rasa saya kurang piknik lol... ditilik dari deskripsi penulis sih kayaknya asik buat bulan madu kalau lagi low season. Jadi pengin nikah kan tuhh.. hhmm...

Tapiii alhamdulillah wa syukurillah, tema memasak mulai terasa kuat di bab-bab pertengahan saat tokoh utama sedang mengikuti kompetisi pastry di bali. Nah buat yang biasa masak, ada beberapa resep yang secara nggak langsung di uraikan disini, plus cara masaknya, plus tips tips memasaknya.

Yaitu Zuri dan Errol, Jepang banget yah namanya, tokoh utama di novel ini. Zuri adalah gadis pendiam berkulit gelap, kurus dan pintar memasak. Dia mengikuti kompetisi pastry yang ternyata salah satu jurinya adalah Errol. Cowok yang sudah dikenalnya dan disukainya saat bertemu di nembrala. Tokoh Errol ini digambarkan sempurna banget. Seorang surfer, patisserie, baik, hangat, maniss, bertanggung jawab... yaa mau satu dong yang kayak gini. Singkat kata, mereka saling jatuh cinta. Tapi perasaan mereka yang masih diam-diam itu terusik oleh kehadiran dua perempuan benama kotori dan yukari yang salah satunya adalah anak dari pak ganteng Errol. Nah loh..hayooloohh jadi...??

Jadi apa Zuri dan Errol bisa menyatukan cinta mereka? Bagaimana dengan istri dan anaknya Errol? Lalu apakah Zuri bisa memenangkan kompetisinya?

Nah tadi di bab-bab awal ada banyak istilah tekhnik surfing yang disebut, di bab-bab pertengahan hingga akhir banyak istilah teknik memasak dan peralatannya juga disebut. Cucok kan..plus ada beberapa resep di halaman belakang. Bonus banget buat yang suka masak. Yukk baca...

Minggu, 13 Maret 2016

Hujan - Tere Liye (Review)

Hujan
By Tere Liye

Seperti apa kira-kira kemajuan teknologi di bumi tahun 2040-an nanti. Mungkin seperti ini, seperti gambaran yang dibuat oleh Tere Liye di novel hujan ini. Jam yang ditanam di tangan, mobil terbang dll. Pokoknya mutakhir, sayangnya belum ada pintu kemana saja ala Doraemon. Hhmm....

Dia adalah Lail, seorang gadis muda pecinta hujan yang mengalami kejadian-kejadian penting dalam hidupnya saat hujan. Dia hendak menghilangkan memori menyakitkan dihidupnya. Untuk memetakan ingatan-ingatannya, dia menceritakan kembali kisah masa lalunya. Bermula dari bencana gempa bumi dan tsunami maha dahsyat yang menewaskan hampir seluruh umat manusia termasuk ibu dan ayahnya. Saat itu usianya 13 th. Dia melihat sendiri seperti apa gempa itu menewaskan ibunya di stasiun kereta bawah tanah. Saya ikut harap-harap cemas membayangkannya. Ngeri banget huhhh... di bagian ini, dijabarkan sedikit sejarah letusan gunung yang pernah terjadi di dunia. Hhmm...

Moment ini mempertemukan Lail dengan Esok. Sejak itu Lail dan Esok menjadi sahabat, menjadi saling peduli dan selalu bersama. Setelah kerusakan pasca bencana mulai terbenahi, mereka meninggalkan tenda penampungan dan harus terpisah karna Esok diangkat anak oleh keluarga kaya yang akan memberinya pendidikan terbaik. Sedangkan Lail tinggal di panti sosial.

Lail disibukkan dengan sekolahnya dan aktifitasnya sebagai perawat relawan, Esok pun lebih sibuk lagi dengan karirnya sebagai ilmuwan. Hal ini menyebabkan mereka jarang bertemu tapii... cinta yang sudah terlanjur tertanam itu takkan mati walau jarak begitu jauh.

Di novel ini, lagi-lagi saya menemukan kisah cinta syahdu. Lail dan esok menghabiskan waktu bersama mereka sebagai sahabat padahal masing-masing benar tahu bahwa mereka menyimpan perasaan lebih dari biasa. Saya belajar bahwa cinta yang tak diucap tapi dirasakan itu jauh lebih kuat. Dan saya juga belajar bahwa keadaan yang sulit justru menguatkan perasaan tersebut.

Ini terbukti ketika bumi mengalami bencana perubahan iklim ekstrem. Saat itu manusia terancam punah dan hanya ada sebagian manusia bisa diselamatkan. Apakah Lail dan Esok bisa selamat?

Ada satu quote yang mengena benar untuk dipahami siapa saja. Maknanya tidak sebatas tentang cinta tapi lebih luas dari itu.

Bukan melupakan masalahnya. Tapi menerima. Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan. – hal 308

Novel dengan alur maju mundur ini mudah dipahami meski banyak bicara tentang kemajuan teknologi dan bencana alam. Saya sendiri bukan penggemar berat novel sci-fic, tapi novel ini sangat menarik. Saking menariknya, saya baca epilog sampai tiga kali. Hehehe...

Btw ada tiga tokoh sentral (versi saya) dalam novel ini:

1. Lail, gadis pecinta hujan ini sebetulnya gadis yang kuat. Dia kuat menghadapi tantangan sbagai relawan, juga kuat memendam perasaannya. Eeeaaa...

2. Esok, ilmuwan muda ini bikin gereget. Tipikal cowok perduli dalam diam. Kira-kira gitu... :))

3. Maryam, sahabat Lail. Dia hobi baca buku, cerewet dan hobi meng goda Lail dengan quote-quote cinta yang dibacanya. Dia ini penghidup suasana. Kangen kalau nggak ada Maryam.

Sabtu, 12 Maret 2016

Aku angin, engkaulah samudra

Aku angin engkaulah samudra.
By Tasaro GK

Ini kali pertama saya membaca karya Tasaro. Berbekal dari testimoni dari seorang blogger pecinta buku yang menyatakan telah jatuh cinta pada tulisan Tasaro, maka saya pun segera hunting buku beliau. Iya, hanya jenis tulisan yang memiliki karakter yang pantas dielukan. Dan saya mengidolakan tulisan berkarakter.

Ketika melahap halaman pertama dari buku ini, benar tulisannya memang berkarakter. Saya mulai tersenyum. Namun begitu berlanjut pada halaman-halam berikutnya, jujur saja saya kurang memahami alur cerita. Sulit meraba arah cerita karna terkesan loncat-loncat. Tapi sekali masuk, saya tidak mau keluar. Ternyata kebingungan saya berakhir pada bab-bab awal saja. Cerita mulai menarik ketika masuk pada flashback kisah masa kecil tokoh aku, Maruto.

Adalah samu dan maru, dua bocah yang sedari kecil telah berkawan dekat. Mereka satu sekolah namun beda satu tingkat kelas. Samu adalah senior. Kedekatan mereka sangat erat bagai saudara. Dimana maru, disitu samu. Namun mereka harus berpisah ketika ibu maru pensiun dari pekerjaannya sebagai kepala sekolah. Maru pindah ke Yogya. Sedangkan samu tetap tinggal di kampung mereka, gunung kidul.

Seiring waktu mereka terlena dengan kesibukan masing-masing. Perpisahan tanpa silang kabar itu tidak lantas meniadakan kerinduan satu sama lain. Buat Maru -si supel yang selalu haus persahabatan- Samu adalah sahabat yang tak lekang. Pun sebaliknya. Hingga setelah dewasa Samu dan Maru berkomunikasi kembali. Saat itu Maru telah menjadi wartawan dan Samu telah menjadi tentara (sedang bertugas di Aceh berkaitan dengan pemberontakan GAM) seperti cita-citanya dulu.

Maru yang sejak berkuliah di UGM telah aktif dengan dunia jurnalis melakukan observasi mengenai konflik GAM di Aceh untuk bahan proyek penulisan novelnya. Pada bagian ini, carut marut pertikaian GAM dan TNI dijabarkan dengan baik sehingga saya juga ikut merasa tegang setiap kali terjadi kontak senjata yang pada akhirnya mengorbankan banyak warga sipil. Miris.

Petualangan nekat maru sebagai wartawan membawanya menjadi salah satu tawanan GAM, di saat-saat inilah akhirnya samu dan maru bertemu. Tapi sayang, maru tidak punya kesempatan melihat sosok samu. Huhuhu...
Buku ini juga dibumbui kisah cinta yang tegang-tegang syahdu antara Mala dan Samu. Mereka saling jatuh cinta tapi diam-diam. Hehhehh...

Kisah persahabatan dan cinta diam-diam ini terasa semakin memanas saat Aceh ditimpa musibah Tsunami akhir tahun 2004 lalu dimana banyak warga Aceh menjadi korban. Adakah samu, mala atau bahkan maru ikut menjadi korban? Apakah cinta diam-diam itu tumbuh subur?

Pada buku ini ada tiga tokoh sentral dimana setiap tokoh memiliki karakter yang kuat:

1. Maruto (tokoh aku). Wartawan supel yang punya banyak sahabat begitu dekat dengan Aceh karna sebagian kawan kuliahnya adalah warga Aceh ditambah lagi sahabat lamanya, samu yang juga bertugas di Aceh. Tipikal wartawan nekat ini punya jiwa setia kawan yang tinggi. Terlihat saat terjadi tragedi tsunami Aceh.

2. Samudro, tentara ini tegas sejak kecil. Ia adalah murid kesayangan ibunya Maruto saat di sekolah dulu. Samu terlihat agak "ngeri" saat memburu gerilyawan GAM, ada hasrat membunuh pemberontak yang sempat membuat saya bergidik. Tapi samu, sama dengan maru, memiliki jiwa setiakawan yang tinggi yang terlihat ketika maru dan mala menjadi tawanan GAM. Dan tapi lagi, samu punya hati yang lembut dan malu-malu. Tuh buktinya cintanya dipendam nggak dinyatain. :))

3. Mala si perawat cantik tapi juga galak, atau tegas kali yah. Perempuan ini punya kebencian mendalam terhadap TNI, karna adiknya menjadi korban peluru nyasar TNI saat terjadi kontak senjata. Ayahnya dituduh relawan GAM. Keluarganya berantakan terpisah-pisah. Namun dia melihat sosok samu berbeda di matanya. Dia tanpa sadar telah jatuh cinta pada samu. Oh ya awal pertemuan samu dan mala cukup menegangkan, melibatkan senjata di depan ruang oprasi rumah sakit. :)) tuh benci jadi cinta deh.

Waaa.... saya cintaa buku iniii... :*

Minggu, 31 Januari 2016

My everytime guardian angel

Dear Ayah

Ayah masih ingatkah hari itu saat bangun tidur aku merengek ingin ayah gendong? Aku pikir saat-saat itulah kulihat dirimu sebagai malaikat. Ternyata itu hanya hal kecil yang bisa dilakukan siapapun yang mampu. Ayah adalah everytime guardian angel buatku. Dan sekali waktu aku pernah begitu menyadarinya saat...

Hari itu, Ayah. Laki-laki itu datang untuk pertama kalinya. Ia berlaku tidak sopan padaku, katamu. Ketidaksopanan yang tidak aku pahami. Kami berlaku seperti sepasang kekasih pada umumnya. Dan ayah keberatan. Dengan tegas ayah mengatakan: karna ini tentang perasaan, kami tidak harus putus tapi hanya boleh bertemu saat dia sudah siap melamar. Aku menangis semalaman. Buatku terasa tidak adil. Tapi percayalah, dibalik tangisku, aku percaya padamu. Karnanya aku turuti perintahmu.

Waktu berlalu. Dan ayah tahukah dia perlakukan aku dengan tidak baik. Kata-katanya kasar dan merendahkan. Ayah benar, dia tidak setulus yang aku pikir.

Padamu aku kembali, ayah..
Apa jadinya jika aku tidak mendengarkanmu waktu itu. Mungkin penyesalan akan jadi terlalu dalam. Maka jangan berhenti menegaskan apa yang ayah pikir baik buatku. Meski aku menangis, meski aku merajuk. Karna aku yakin bahagiaku adalah bahagiamu.

Love,
Mita

Sabtu, 30 Januari 2016

Ayat ayat cinta 1

Ini bukan pertama kalinya aku baca buku ini. Ingat sekali saat itu sekitar 8 tahun yang lalu di kamar asrama. Giliranku meminjam buku ini tiba. Iya benar, ini buku jadi giliran untuk dipinjam kami-kami yang suka baca tapi nggak modal hahahaa... aku biasa pinjam novel ke teman atau sesekali pinjam di perpustakaan kampus. Well kampusku itu lingkungannya internasional. Hampir semua buku di sana berbahasa inggris termasuk novel. Karna bawaan ndesoku masih kental yaa gimana yah jadi kurang menikmati novel berbahasa asing seperti itu. Hhmm...

Back to buku ayat-ayat cinta 1. Setelah sebelumnya aku nggak berhenti-henti ketawa saat memikmati buku kambing jantannya Raditya dika -buku pinjaman juga lohhh- ehhh air mata yang tadinya keluar karna tertawa yang terlampau itu malah berganti jadi air mata syahdu huhuhu... aku jatuh cinta pada..padaaa...pada....

Oh iya sebelum lanjut, aku mau kasih tau kalau kali ini buki ayat-ayat cinta 1 yang aku baca adalah hasil beli. Serius!

Tanpa cemburu, cinta tiada. Itu kata Aisha ke Fahri waktu..hmm.. apa yah lupa.

Jadi ingat kalau beberapa waktu lalu aku juga putus karna cemburu. Eike kan cewek, wajar dong kalau cemburunya diekspresikan.

Nahh pasti sebagian besar dari kamu, anda, ibu, bapak, mbak, mas dll sudah pernah terhanyut dalam kisah cinta Fahri, Aisha dan Maria di filmnya. Saya juga. Sebelum nonton film itu, saya sudah baca bukunya. Tapi inilah saya, kalau baru sekali baca itu kurang mudeng. Mudeng waktu bacanya aja, setelah itu lupa. Dan waktu nonton filmnya, jujur aja saya lebih fokus pada wajah mulus aisha dan maria. Dan wajah ganteng fahri. Sekali lagi, begitulah saya. Alhasil, saya baru betul-betul menikmati indahnya buku ini saat kali kedua membaca. Hahhaahhh..

Begini resensi singkatnya,

Adalah Fahri, mahasiswa Al-Azhar yang berasal dari Indonesia. Ganteng, sholeh, baik hati, jujur, pintar, bijak apalagi yah... pokonya Fahri ini nyaris sempurna. Cuma kurang kaya raya aja hahhaa.... tapi jangan salah, kalau tahu keuletan, kegigihan, tanggung jawab dan budi pekerti mas Fahri ini (ciyee..) pasti punya keyakinan kalau akh Fakhri yang kharismatik akan InyaAllah sukses dunia akhirat. Apalagi mas Fahri ini juga romantis elegan dan gentle. Pantas aja Aisha, Nurul, Maria dan Noura menginginkanyahh...nyess...

Jadi mas Fakhri ini sedang menjalani program pascasarjananya. Dan punya planning untuk sudah memiliki istri saat sedang berjuang menyelesaikan thesis. Begitu. Tapi mas Fahri tidak lantas hunting istri. Ia bertawakal pada Allah. Tanpa disangka dijodohkan dengan Aisha. Fahri dan Aisha sudah saling kenal, awal perkenalan mereka di metro (kereta) dan berlanjut menjadi pertemanan. Ternyata Aisha ini yang mengatur agar bisa dijodohkan dengan Fahri. Ahhhaaa goodjob! Cinta memang harus diperjuangkan.

Singkat cerita, setelah menikahnya Fahri dan Aisha, dua gadis lain yaitu nurul dan maria patah hati. Maria sampai jatuh sakit dan koma. Nurul cuma bisa pasrah. Tapi sempat kirim surat cinta ke fahri untuk minta dijadikan istri kedua. Huaaa... jelas fahri menolak dengan bijak tentunya. Padahal ternyata dulunya fahri sempat suka sama nurul, tapi keduanya terlalu malu untuk mengungkapkan. Hehhhee...

Nah Fahri ini sempat masuk perjara karna dituduh memperkosa noura. Duh siksaan di perjara itu bikin  ngilu deh bacanya. Padahal waktu itu fahri cuma niat menolong. Ternyata noura hamil dan fahri dijadikan kambing hitam. Siapa yang menghamili? Baca aja sendiri.

Maria oh maria, perempuan nonmuslim ini sangat mencintai fahri. Cinta memang menyakitkan yah. Dia sampai koma waktu dengar fahri menikah. Tapi akhirnya fahri dan maria menikah. Tapi harus terpisah lagi. Ini saat-saat paling mengharukan dalam kisah ini.

Selama membaca saya banyak senyum sekaligus berlinangan air mata. Jangan salah, saya menangis bukan karna sedih tapi justru terharu ketika membaca romantisme fahri, aisha dan maria. Kok kisahnya syahdu banget yah. Nggak ada unsur nafsusisme (hahhhaaaha apa deh), dan kisah sedihnya dibalut nuansa religius hingga tampak hikmah dibalik setiap cobaan yang didapat dan menggiring kita untuk tetap berpikir positif, hal ini membuat jiwa saya nyess sejuk. Seindah itukah agama yang saya anut? Alhamdulillah.

Btw, ending ayat-ayat cints versi film dan buku itu kayaknya berbeda. Seingat saya Mari masih sempat menjalani rumah tangga dengan Fahri (kalau nggak salah, kalau salah tolong ingatkan) tapi versi buku nggak demikian. Buat saya pribadi, ending versi buku ini lebih syahdu.

Jumat, 29 Januari 2016

Si janda

"Apa kabar selingkuhanmu?" Kartika mengibas rambut panjangnya ke belakang pundak. Leher jenjang itu membuat lelaki dihadapannya menelan ludah.

"Aku janji tidak akan main gila lagi."

Kartika tertawa lebar. "Baru belajar bohong sudah berlagak ahli rupanya."

Ia menunjuk tanda merah di leher lelaki itu dengan pena. Lalu melemparnya ke atas surat cerai mereka.

Lelaki itu mati kutu tertangkap basah -lagi. Dengan berat hati ia membubuhi tanda tangannya disana.

Kartika segera bangkit. Menarik surat itu dengan cepat.

"Aku akan berikan semua gajiku padamu. Masa depanmu akan kujamin." Lelaki itu memohon.

Kartika tersenyum kecut. Ia membenahi blazer ungunya.

"Tidak ada yang kutakuti dari masa depanku selain hidup dengan pecundang sepertimu."

Kartika beranjak. Aku menyambut sahabatku di pintu cafe.

"Jadi sampai kapan status janda ini kira-kira bertahan?"

Kartika menertawaiku. Ia menepuk dada kirinya pertanda luka itu masih basah.

"Mungkin sampai ungu tak lagi disebut si janda."

Tulisan ini diikutsertakan dalam #PestaFiksi03 oleh RedCarra

Kamis, 28 Januari 2016

Cinta itu adalah

Setiap kali melihat pohon di siang hari, aku teringat cinta. Cinta ada untuk tumbuh, disadari ataupun tidak. Padanya, aku melihat cinta yang tulus. Cinta bukan cinta jika tidak tulus, bukan?

Cinta sejatinya kuat mengakar. Seperti akar pohon, tak terlihat namun memberi manfaat, tak diungkap namun tetap menetap, tak perlu dipuja namun setia untuk ada.
Cinta sejatinya ikhlas melepas. Seperti dedaun yang jatuh meninggalkan ranting tanpa membenci angin. Karna perpisahan itu pasti. Hanya soal waktu.

Cinta selalu memaafkan. Seperti matahari. Seringkali dikeluhkan akan teriknya namun tetap terbit lagi dan lagi. Karna ia tahu, manusia akan kesulitan tanpanya.

Cinta sejatinya murni. Seperti cinta seorang ibu. Tiada mengeluh atas sakit dan lelah. Tetap saja mencinta. Tak mengenal waktu. Tak terhingga. "Cinta adalah perbuatan, Kata-kata dan tulisan indah adalah omong kosong" -Tere Liye-

Lihat saja pepohonan, sunyi namun penuh cinta. Lihat saja ibu, diam-diam, dibalik omelannya yang sarat pelajaran, ada cinta yang membuncah. Tanya saja kalau nggak percaya :))