Dear Ayah
Ayah masih ingatkah hari itu saat bangun tidur aku merengek ingin ayah gendong? Aku pikir saat-saat itulah kulihat dirimu sebagai malaikat. Ternyata itu hanya hal kecil yang bisa dilakukan siapapun yang mampu. Ayah adalah everytime guardian angel buatku. Dan sekali waktu aku pernah begitu menyadarinya saat...
Hari itu, Ayah. Laki-laki itu datang untuk pertama kalinya. Ia berlaku tidak sopan padaku, katamu. Ketidaksopanan yang tidak aku pahami. Kami berlaku seperti sepasang kekasih pada umumnya. Dan ayah keberatan. Dengan tegas ayah mengatakan: karna ini tentang perasaan, kami tidak harus putus tapi hanya boleh bertemu saat dia sudah siap melamar. Aku menangis semalaman. Buatku terasa tidak adil. Tapi percayalah, dibalik tangisku, aku percaya padamu. Karnanya aku turuti perintahmu.
Waktu berlalu. Dan ayah tahukah dia perlakukan aku dengan tidak baik. Kata-katanya kasar dan merendahkan. Ayah benar, dia tidak setulus yang aku pikir.
Padamu aku kembali, ayah..
Apa jadinya jika aku tidak mendengarkanmu waktu itu. Mungkin penyesalan akan jadi terlalu dalam. Maka jangan berhenti menegaskan apa yang ayah pikir baik buatku. Meski aku menangis, meski aku merajuk. Karna aku yakin bahagiaku adalah bahagiamu.
Love,
Mita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar