Sabtu, 12 Maret 2016

Aku angin, engkaulah samudra

Aku angin engkaulah samudra.
By Tasaro GK

Ini kali pertama saya membaca karya Tasaro. Berbekal dari testimoni dari seorang blogger pecinta buku yang menyatakan telah jatuh cinta pada tulisan Tasaro, maka saya pun segera hunting buku beliau. Iya, hanya jenis tulisan yang memiliki karakter yang pantas dielukan. Dan saya mengidolakan tulisan berkarakter.

Ketika melahap halaman pertama dari buku ini, benar tulisannya memang berkarakter. Saya mulai tersenyum. Namun begitu berlanjut pada halaman-halam berikutnya, jujur saja saya kurang memahami alur cerita. Sulit meraba arah cerita karna terkesan loncat-loncat. Tapi sekali masuk, saya tidak mau keluar. Ternyata kebingungan saya berakhir pada bab-bab awal saja. Cerita mulai menarik ketika masuk pada flashback kisah masa kecil tokoh aku, Maruto.

Adalah samu dan maru, dua bocah yang sedari kecil telah berkawan dekat. Mereka satu sekolah namun beda satu tingkat kelas. Samu adalah senior. Kedekatan mereka sangat erat bagai saudara. Dimana maru, disitu samu. Namun mereka harus berpisah ketika ibu maru pensiun dari pekerjaannya sebagai kepala sekolah. Maru pindah ke Yogya. Sedangkan samu tetap tinggal di kampung mereka, gunung kidul.

Seiring waktu mereka terlena dengan kesibukan masing-masing. Perpisahan tanpa silang kabar itu tidak lantas meniadakan kerinduan satu sama lain. Buat Maru -si supel yang selalu haus persahabatan- Samu adalah sahabat yang tak lekang. Pun sebaliknya. Hingga setelah dewasa Samu dan Maru berkomunikasi kembali. Saat itu Maru telah menjadi wartawan dan Samu telah menjadi tentara (sedang bertugas di Aceh berkaitan dengan pemberontakan GAM) seperti cita-citanya dulu.

Maru yang sejak berkuliah di UGM telah aktif dengan dunia jurnalis melakukan observasi mengenai konflik GAM di Aceh untuk bahan proyek penulisan novelnya. Pada bagian ini, carut marut pertikaian GAM dan TNI dijabarkan dengan baik sehingga saya juga ikut merasa tegang setiap kali terjadi kontak senjata yang pada akhirnya mengorbankan banyak warga sipil. Miris.

Petualangan nekat maru sebagai wartawan membawanya menjadi salah satu tawanan GAM, di saat-saat inilah akhirnya samu dan maru bertemu. Tapi sayang, maru tidak punya kesempatan melihat sosok samu. Huhuhu...
Buku ini juga dibumbui kisah cinta yang tegang-tegang syahdu antara Mala dan Samu. Mereka saling jatuh cinta tapi diam-diam. Hehhehh...

Kisah persahabatan dan cinta diam-diam ini terasa semakin memanas saat Aceh ditimpa musibah Tsunami akhir tahun 2004 lalu dimana banyak warga Aceh menjadi korban. Adakah samu, mala atau bahkan maru ikut menjadi korban? Apakah cinta diam-diam itu tumbuh subur?

Pada buku ini ada tiga tokoh sentral dimana setiap tokoh memiliki karakter yang kuat:

1. Maruto (tokoh aku). Wartawan supel yang punya banyak sahabat begitu dekat dengan Aceh karna sebagian kawan kuliahnya adalah warga Aceh ditambah lagi sahabat lamanya, samu yang juga bertugas di Aceh. Tipikal wartawan nekat ini punya jiwa setia kawan yang tinggi. Terlihat saat terjadi tragedi tsunami Aceh.

2. Samudro, tentara ini tegas sejak kecil. Ia adalah murid kesayangan ibunya Maruto saat di sekolah dulu. Samu terlihat agak "ngeri" saat memburu gerilyawan GAM, ada hasrat membunuh pemberontak yang sempat membuat saya bergidik. Tapi samu, sama dengan maru, memiliki jiwa setiakawan yang tinggi yang terlihat ketika maru dan mala menjadi tawanan GAM. Dan tapi lagi, samu punya hati yang lembut dan malu-malu. Tuh buktinya cintanya dipendam nggak dinyatain. :))

3. Mala si perawat cantik tapi juga galak, atau tegas kali yah. Perempuan ini punya kebencian mendalam terhadap TNI, karna adiknya menjadi korban peluru nyasar TNI saat terjadi kontak senjata. Ayahnya dituduh relawan GAM. Keluarganya berantakan terpisah-pisah. Namun dia melihat sosok samu berbeda di matanya. Dia tanpa sadar telah jatuh cinta pada samu. Oh ya awal pertemuan samu dan mala cukup menegangkan, melibatkan senjata di depan ruang oprasi rumah sakit. :)) tuh benci jadi cinta deh.

Waaa.... saya cintaa buku iniii... :*

2 komentar:

  1. Buku punya saya juga baru sampe minggu-minggu kemarin. Sempat baca bab awalnya dan memang asyik. Saya menyukai buku Tasaro GK sejak baca Kinanthi

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya malah belum baca kinanthi, baru akan. baru kali ini baca bukunya Tasaro. :)

      Hapus