Hujan
By Tere Liye
Seperti apa kira-kira kemajuan teknologi di bumi tahun 2040-an nanti. Mungkin seperti ini, seperti gambaran yang dibuat oleh Tere Liye di novel hujan ini. Jam yang ditanam di tangan, mobil terbang dll. Pokoknya mutakhir, sayangnya belum ada pintu kemana saja ala Doraemon. Hhmm....
Dia adalah Lail, seorang gadis muda pecinta hujan yang mengalami kejadian-kejadian penting dalam hidupnya saat hujan. Dia hendak menghilangkan memori menyakitkan dihidupnya. Untuk memetakan ingatan-ingatannya, dia menceritakan kembali kisah masa lalunya. Bermula dari bencana gempa bumi dan tsunami maha dahsyat yang menewaskan hampir seluruh umat manusia termasuk ibu dan ayahnya. Saat itu usianya 13 th. Dia melihat sendiri seperti apa gempa itu menewaskan ibunya di stasiun kereta bawah tanah. Saya ikut harap-harap cemas membayangkannya. Ngeri banget huhhh... di bagian ini, dijabarkan sedikit sejarah letusan gunung yang pernah terjadi di dunia. Hhmm...
Moment ini mempertemukan Lail dengan Esok. Sejak itu Lail dan Esok menjadi sahabat, menjadi saling peduli dan selalu bersama. Setelah kerusakan pasca bencana mulai terbenahi, mereka meninggalkan tenda penampungan dan harus terpisah karna Esok diangkat anak oleh keluarga kaya yang akan memberinya pendidikan terbaik. Sedangkan Lail tinggal di panti sosial.
Lail disibukkan dengan sekolahnya dan aktifitasnya sebagai perawat relawan, Esok pun lebih sibuk lagi dengan karirnya sebagai ilmuwan. Hal ini menyebabkan mereka jarang bertemu tapii... cinta yang sudah terlanjur tertanam itu takkan mati walau jarak begitu jauh.
Di novel ini, lagi-lagi saya menemukan kisah cinta syahdu. Lail dan esok menghabiskan waktu bersama mereka sebagai sahabat padahal masing-masing benar tahu bahwa mereka menyimpan perasaan lebih dari biasa. Saya belajar bahwa cinta yang tak diucap tapi dirasakan itu jauh lebih kuat. Dan saya juga belajar bahwa keadaan yang sulit justru menguatkan perasaan tersebut.
Ini terbukti ketika bumi mengalami bencana perubahan iklim ekstrem. Saat itu manusia terancam punah dan hanya ada sebagian manusia bisa diselamatkan. Apakah Lail dan Esok bisa selamat?
Ada satu quote yang mengena benar untuk dipahami siapa saja. Maknanya tidak sebatas tentang cinta tapi lebih luas dari itu.
Bukan melupakan masalahnya. Tapi menerima. Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan. – hal 308
Novel dengan alur maju mundur ini mudah dipahami meski banyak bicara tentang kemajuan teknologi dan bencana alam. Saya sendiri bukan penggemar berat novel sci-fic, tapi novel ini sangat menarik. Saking menariknya, saya baca epilog sampai tiga kali. Hehehe...
Btw ada tiga tokoh sentral (versi saya) dalam novel ini:
1. Lail, gadis pecinta hujan ini sebetulnya gadis yang kuat. Dia kuat menghadapi tantangan sbagai relawan, juga kuat memendam perasaannya. Eeeaaa...
2. Esok, ilmuwan muda ini bikin gereget. Tipikal cowok perduli dalam diam. Kira-kira gitu... :))
3. Maryam, sahabat Lail. Dia hobi baca buku, cerewet dan hobi meng goda Lail dengan quote-quote cinta yang dibacanya. Dia ini penghidup suasana. Kangen kalau nggak ada Maryam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar